BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tumbuhnya
tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu
sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad Saw diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah
menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad Saw. sebelum diangkat menjadi Rasul
telah berulang kali melakukan tahannust dan khalwat di Gua Hira' di samping
untuk mengasingkan diri dari masyarakat Makkah yang sedang mabuk mengikuti hawa
nafsu keduniaan. Tahannust dan khalwat Nabi adalah untuk mencari ketenangan
jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks
tersebut.
Proses
khalwat Nabi yang kemudian disebut tarekat tersebut sekaligus diajarkannya
kepada Sayyidina Ali ra. sebagai cucunya. Dan dari situlah kemudian Ali
mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada Syaikh Abdul
Qadir al-Jilani, sehingga tarekatnya dinamai Qadiriyah. Sebagaimana dalam
silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Sayyidina Ali ra. dan Syaikh Abdul
Qadir al-Jilani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad Saw., dari Malaikat
Jibril dan dari Allah SWT. Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir
al Jilani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad
Abdul Qadir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jilani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077
M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.
Dalam
usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095
M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu
dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali.
Tapi, al-Ghazali tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama
Syaikh Abu Yusuf al-Hamadani (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu
sampai mendapatkan ijazah.
B.
Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas supaya tidak
terjadi kesimpangsiuran, maka perumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini
adalah:
1.
Bagaimana Asal Mula Tarekat Qadiriyah?
2.
Bagaimana Sejarah Tarekat Qadiriyah?
3.
Bagaimana Perkembangan Tarekat di Indonesia?
C.
Tujuan Pembahasan
Berdasarkan masalah di atas maka tujuan dan manfa’at dalam makalah
ini adalah:
1.
Untuk mengetahui Asal Mula Tarekat Qadiriyah
2.
Untuk mengetahui Sejarah Tarekat Qadiriyah
3.
Untuk mengetahui Perkembangan Tarekat di Indonesia
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
ASAL MULA TAREKAT QODIRIYAH
Tarekat Qodiriyah asal
mulanya berasal dari Baghdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya ialah Syaikh
Abdul Qodir Al-Jailani (1077-1166 M). Mula-mula ia seorang ahli bahasa dan ahli
fiqih dari madzhab Hanbali.Tulisannya pada umumnya berdasarkan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ada sejumlah bukunya yang
ditulis oleh murid-muridnya yang menceritakan kesaktiannya.
Pelajaran tarekat Qodiriyah tidak jauh berbeda
dari pelajaran islam umum. Hanya saja tarekat ini mementingkan kasih sayang
terhadap semua makhluk, rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan
maupun politik. Keistimewaan tarekatnya ialah Dzikir dengan menyebut-nyebut
nama Tuhan. Ada anggapan membaca Manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani pada
tanggal 10 malam tiap bulan bisa melepaskan kemiskinan. Karena itu manaqibnya
populer, baik di Jawa maupun Sumatera.
Kadang kala tarekat ini digabung dengan Naqsyabandiyah menjadi
tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah. Seperti halnya di Suryalaya (Tasikmalaya Jawa
Barat, dipimpin Abah Anom, yang sering dikunjungi Harun Nasution, pengubah
kurikulum IAIN se-Indonesia, dari manhaj Ahlus Sunnah ke Muktazilah dengan
mengandalkan akal dan mengesampingkan wahyu, akibatnya IAIN jadi rusak
akidahnya). Gabungan kedua ajaran ini atau tarekatb Qodiriyah Naqsabandiyah di
dirikan oleh Syaikh Khotib Sambas. Tarekat ini merupakan sarana yang sangat
penting bagi penyebaran agama Islam di Indonesia dan Malaya dari pusatnya di
Mekah antara pertengahan abad ke-19 sampai dengan perempat pertama abad ke-20.
Tarekat yang tergolong dalam kelompok Qodiriyah ini cukup banyak
dan tersebar ke seluruh negri islam. Tarekat Faridiyah di Mesir yang di
nisbatkan kepada Umar bin Al-Farid (1234 M) yang mengilhami trekat sanusiyah (Muhammad
bin Ali Al-Sanusi, 1787-1859 M) melalui tarekat Idrisiyah (Ahmad bin Idris) di
Afrik Utara, meerupakan kelompok Qodiriyah yang masuk ke India melalui Muhammad
Al-Ghawath (1517 M) yang kemudiaan dikenal dengan tarekat Al-Ghawathiyah atau
Al-Mi`rajiyah dan di Turki dikembangkan oleh Ismail Ar-Rumi (1041 H/1631 M).
B.
SEJARAH TAREKAT QODIRIYAH
Tumbuhnya
tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu
sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad Saw diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan
bahwa pribadi Nabi Muhammad Saw sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang
kali melakukan tahannust dan khalwat di Gua Hira' di samping untuk mengasingkan
diri dari masyarakat Makkah yang sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan.
Tahannust dan khalwat Nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan
hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks tersebut.
Proses khalwat Nabi yang kemudian disebut tarekat tersebut sekaligus diajarkannya kepada Sayyidina Ali ra. sebagai cucunya. Dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, sehingga tarekatnya dinamai Qadiriyah. Sebagaimana dalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Sayyidina Ali ra. dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad Saw., dari Malaikat Jibril dan dari Allah SWT. Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir al Jilani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jilani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Tapi, al-Ghazali tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama Syaikh Abu Yusuf al-Hamadani (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu sampai mendapatkan ijazah.
Proses khalwat Nabi yang kemudian disebut tarekat tersebut sekaligus diajarkannya kepada Sayyidina Ali ra. sebagai cucunya. Dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, sehingga tarekatnya dinamai Qadiriyah. Sebagaimana dalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Sayyidina Ali ra. dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad Saw., dari Malaikat Jibril dan dari Allah SWT. Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir al Jilani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jilani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Tapi, al-Ghazali tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama Syaikh Abu Yusuf al-Hamadani (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu sampai mendapatkan ijazah.
Pada
tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada
masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syaikh Abdul Qadir
al-Jilani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq
dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain
itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H
sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin
anaknya Syaikh Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Syaikh
Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syaikh Abdul Qadir
al-Jilani, Syaikh Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad
pada tahun 656 H/1258 M.
Sejak
itu tarekat Qadiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang
diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika
dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru
terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya, baru berkembang setelah
Syaikh Muhammad Ghawsh (w. 1517 M) juga mengaku keturunan Syaikh Abdul Qadir
al-Jilani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar
(mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, tarekat Qadiriyah sudah berdiri sejak
1180 H/1669 M. Tarekat Qadiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah
mencapai derajat syaikh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus
mengikuti tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang
lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Syaikh Abdul
Qadir al-Jilani sendiri, "Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya,
maka dia jadi mandiri sebagai syaikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk
seterusnya. Mungkin karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan
tarekat yang masuk dalam kategori Qadiriyah di dunia Islam. Seperti Banawa yang
berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah
(1584 M), Miyan Khei (1550 M), Qumaishiyah (1584), Hayat al-Mir, semuanya di India.
Di Turki terdapat tarekat Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 M),
Nablusiyah, Waslatiyyah. Dan di Yaman ada tarekat Ahdaliyah, Asadiyah,
Mushariyyah, 'Urabiyyah, Yafi'iyah (718-768 H/1316 M) dan Zayla'iyah. Sedangkan
di Afrika terdapat tarekat Ammariyah, Bakka'iyah, Bu'Aliyyah, Manzaliyah dan
tarekat Jilala, nama yang biasa diberikan masyarakat Maroko kepada Syaikh Abdul
Qadir al-Jilani. Jilala dimasukkan dari Maroko ke Spanyol dan diduga setelah
keturunannya pindah dari Granada, sebelum kota itu jatuh ke tangan Kristen pada
tahun 1492 M dan makam mereka disebut "Syurafa Jilala".
Dari ketaudanan Nabi dan sahabat Ali ra. dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT tersebut, yang kemudian disebut tarekat, maka tarekat Qadiriyah menurut ulama sufi juga memiliki tujuan yang sama. Yaitu untuk mendekat dan mendapat ridho dari Allah SWT. Oleh sebab itu dengan tarekat manusia harus mengetahui hal-ikhwal jiwa dan sifat-sifatnya yang baik dan terpuji untuk kemudian diamalkan, maupun yang tercela yang harus ditinggalkannya.
Dari ketaudanan Nabi dan sahabat Ali ra. dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT tersebut, yang kemudian disebut tarekat, maka tarekat Qadiriyah menurut ulama sufi juga memiliki tujuan yang sama. Yaitu untuk mendekat dan mendapat ridho dari Allah SWT. Oleh sebab itu dengan tarekat manusia harus mengetahui hal-ikhwal jiwa dan sifat-sifatnya yang baik dan terpuji untuk kemudian diamalkan, maupun yang tercela yang harus ditinggalkannya.
Misalnya
dengan mengucapkan kalimat tauhid, dzikir "Laa ilaha Illa Allah"
dengan suara nyaring, keras (dhahir) yang disebut (nafi istbat) adalah contoh
ucapan dzikir dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dari Sayidina Ali bin Abi
Thalib ra., hingga disebut tarekat Qadiriyah. Selain itu dalam setiap selesai
melaksanakan shalat lima waktu (Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya' dan Subuh),
diwajibkan membaca istighfar tiga kali atau lebih, lalu membaca shalawat tiga
kali, Laa ilaha illa Allah 165 (seratus enam puluh lima) kali. Sedangkan di
luar shalat agar berdzikir semampunya.
Dalam
mengucapkan lafadz Laa pada kalimat "Laa Ilaha Illa Allah" kita harus
konsentrasi dengan menarik nafas dari perut sampai ke otak. Kemudian disusul
dengan bacaan Ilaha dari arah kanan dan diteruskan dengan membaca Illa Allah ke
arah kiri dengan penuh konsentrasi, menghayati dan merenungi arti yang
sedalam-dalamnya, dan hanya Allah SWT-lah tempat manusia kembali. Sehingga akan
menjadikan diri dan jiwanya tentram dan terhindar dari sifat dan perilaku yang
tercela.
Menurut
ulama sufi (al-Futuhat al-Rubbaniyah), melalui tarekat mu'tabarah tersebut,
setiap muslim dalam mengamalkannya akan memiliki keistimewaan, kelebihan dan
karomah masing-masing. Ada yang terkenal sebagai ahli ilmu agama seperti
sahabat Umar bin Khattab ra., ahli syiddatil haya' sahabat Usman bin Affan ra.,
ahli jihad fisabilillah sahabat Hamzah ra. dan Khalid bin Walid ra., ahli falak
Zaid al-Farisi ra., ahli syi'ir Hasan bin Tsabit ra., ahli lagu Al Qur'an
sahabat Abdillah bin Mas'ud ra. dan Ubay bin Ka'ab ra., ahli hadis Abi Hurairah
ra., ahli adzan sahabat Bilal ra. dan Ibni Ummi Maktum ra., ahli mencatat wahyu
dari Nabi Muhammad Saw. adalah sahabat Zaid bin Tsabit ra., ahli zuhud Abi
Dzarr ra., ahli fiqh Mu'ad bin Jabal ra., ahli politik peperangan sahabat
Salman al-Farisi ra., ahli berdagang adalah Abdurrahman bin A'uf ra. dan
sebagainya.
C.
PERKEMBANGAN TAREKAT QODIRIYAH DI INDONESIA
Seperti
halnya tarekat di Timur Tengah, sejarah
tarekat Qadiriyah di Indonesia juga berasal dari Makkah al-Musyarrafah. Tarekat
Qadiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa,
seperti di Pesantren Pegentongan Bogor - Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya -
Jawa Barat, Mranggen - Jawa Tengah, Rejoso Jombang - Jawa Timur dan Pesantren
Tebuireng Jombang - Jawa Timur. Syaikh Abdul Karim dari Banten adalah murid
kesayangan Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan ulama
paling berjasa dalam penyebaran tarekat Qadiriyah. Murid-murid Sambas yang
berasal dari Jawa dan Madura setelah pulang ke Indonesia menjadi penyebar
TarekatQadiriyah.
Tarekat
ini mengalami perkembangan pesat pada abad ke-19, terutama ketika menghadapi
penjajahan Belanda. Sebagaimana diakui oleh Annemerie Schimmel dalam bukunya
"Mystical Dimensions of Islam" hal.236 yang menyebutkan bahwa tarekat
bisa digalang untuk menyusun kekuatan untuk menandingi kekuatan lain. Juga di
Indonesia, pada Juli 1888, wilayah Anyer di Banten, Jawa Barat, dilanda
pemberontakan.
Pemberontakan
petani yang seringkali disertai harapan yang mesianistik, memang sudah biasa
terjadi di Jawa, terutama dalam abad ke-19 dan Banten merupakan salah satu
daerah yang sering berontak. Tapi, pemberontakan kali ini benar-benar
mengguncang Belanda, karena pemberontakan itu dipimpin oleh para ulama dan
kyai. Dari hasil penyelidikan (Belanda, Martin van Bruneissen) menunjukkan
mereka itu pengikut tarekat Qadiriyah, Syaikh Abdul Karim bersama khalifahnya
yaitu KH. Marzuki, adalah pemimpin pemberontakan tersebut hingga Belanda kewalahan.
Pada tahun 1891 pemberontakan yang sama terjadi di Praya, Lombok Tengah, Nusa
Tenggara Barat (NTB) dan pada tahun 1903, KH. Khasan Mukmin dari Sidoarjo,
Jatim serta KH. Khasan Tafsir dari Krapyak, Yogyakarta, juga melakukan
pemberontakanyangsama.
Sementara
itu organisasi agama yang tidak bisa dilepaskan dari tarekat Qadiriyah adalah
organisasi terbesar Islam, Nahdlaltul Ulama (NU) yang berdiri di Surabaya pada
tahun 1926. Bahkan tarekat yang dikenal sebagai Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
sudah menjadi organisasi resmi di Indonesia.
Juga
pada organisasi Islam Al-Washliyah dan lain-lainnya. Dalam kitab Miftahus
Shudur yang ditulis KH. Ahmad Shohibulwafa' Tadjul Arifin (Abah Anom), Pimpinan
Pondok Pesantren Suryalaya - Tasikmalaya, Jabar, dalam silsilah tarekatnya
menempati urutan ke-37, sampai merujuk pada Nabi Muhammad Saw, Sayyidina Ali
ra, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan Syaikh Ahmad Khatib Sambas ke-34. Sama
halnya dengan silsilah tarekat almrhum KH. Musta'in Romli, Pengasuh Pondok
Pesantren Rejoso - Jombang, Jatim, yang menduduki urutan ke-41 dan Syaikh Ahmad
Khatib Sambas ke-35. Bahwa Beliau mendapat talqin dan bai'at dari KH. Moh.
Kholil - Rejoso, Jombang, KH. Moh. Kholil dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas ibn
Abdul Ghaffar yang alim dan arifbillah (telah mempunyai ma'rifat kepada Allah)
yang berdiam di Makkah di Kampung Suqul Lail.
Silsilahnya; 1. M. Musta'in Romli, 2. Usman Ishaq, 3. Moh. Romli Tamim 4. Moh. Kholil, 5. Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura, 6. Abdul Karim, 7. Ahmad Khatib Sambas ibn Abdul Gaffar, 8. Syamsuddin, 9. Moh. Murod, 10. Abdul Fattah, 11. Kamaluddin, 12. Usman, 13. Abdurrahim, 14. Abu Bakar, 15. Yahya, 16. Hisyamuddin, 17. Waliyuddin, 18. Nuruddin, 19. Zainuddin, 20. Syarafuddin, 21. Syamsuddin, 22. Moh Hattak, 23. Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, 24. Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi, 25. Abu Hasan Ali al-Hakkari, 26. Abul Faraj al-Thusi, 27. Abdul Wahid al-Tamimi, 28. Abu Bakar Dulafi al-Syibli, 29. Abul Qasim al-Junaid al-Baghdadi, 30. Sari al-Saqathi, 31. Ma'ruf al-Karkhi, 32. Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho, 33. Musa al-Kadzim, 34. Ja'far Shodiq, 35. Muhammad al-Baqir, 36. Imam Zainul Abidin, 37. Sayyidina Husein, 38. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, 39. Sayyidina Nabi Muhammad saw, 40. Sayyidina Jibril dan 41. Allah SWT. Masalah silsilah tersebut memang berbeda satu sama lain, karena ada yang disebut secara keseluruhan dan sebaliknya. Di samping berbeda pula guru di antara para kyai itu sendiri.
Silsilahnya; 1. M. Musta'in Romli, 2. Usman Ishaq, 3. Moh. Romli Tamim 4. Moh. Kholil, 5. Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura, 6. Abdul Karim, 7. Ahmad Khatib Sambas ibn Abdul Gaffar, 8. Syamsuddin, 9. Moh. Murod, 10. Abdul Fattah, 11. Kamaluddin, 12. Usman, 13. Abdurrahim, 14. Abu Bakar, 15. Yahya, 16. Hisyamuddin, 17. Waliyuddin, 18. Nuruddin, 19. Zainuddin, 20. Syarafuddin, 21. Syamsuddin, 22. Moh Hattak, 23. Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, 24. Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi, 25. Abu Hasan Ali al-Hakkari, 26. Abul Faraj al-Thusi, 27. Abdul Wahid al-Tamimi, 28. Abu Bakar Dulafi al-Syibli, 29. Abul Qasim al-Junaid al-Baghdadi, 30. Sari al-Saqathi, 31. Ma'ruf al-Karkhi, 32. Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho, 33. Musa al-Kadzim, 34. Ja'far Shodiq, 35. Muhammad al-Baqir, 36. Imam Zainul Abidin, 37. Sayyidina Husein, 38. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, 39. Sayyidina Nabi Muhammad saw, 40. Sayyidina Jibril dan 41. Allah SWT. Masalah silsilah tersebut memang berbeda satu sama lain, karena ada yang disebut secara keseluruhan dan sebaliknya. Di samping berbeda pula guru di antara para kyai itu sendiri.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tarekat Qodiriyah
asal mulanya berasal dari Baghdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya ialah
Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (1077-1166 M).
Pelajaran tarekat Qodiriyah tidak jauh berbeda dari pelajaran islam
umum. Hanya saja tarekat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk,
rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan maupun politik.
Tumbuhnya tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan
kelahiran agama Islam itu sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad Saw diutus menjadi
Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad Saw sebelum
diangkat menjadi Rasul telah berulang kali melakukan tahannust dan khalwat di
Gua Hira'
Tarekat
Qadiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa,
seperti di Pesantren Pegentongan Bogor - Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya -
Jawa Barat, Mranggen - Jawa Tengah, Rejoso Jombang - Jawa Timur dan Pesantren
Tebuireng Jombang - Jawa Timur. Syaikh Abdul Karim dari Banten adalah murid
kesayangan Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan ulama
paling berjasa dalam penyebaran tarekat Qadiriyah. Murid-murid Sambas yang
berasal dari Jawa dan Madura setelah pulang ke Indonesia menjadi penyebar
TarekatQadiriyah.
B.
Saran
1.
Kepada seluruh eksponen masyarakat yang ingin memanfa’atkan makalah
ini, penelitian ini masih jauh panggang dari api, olehnya perlu ada
penyempurnaan.
2.
Bagi para pakar keislaman dalam berbagai aspeknya perlu menggali
ulang petunjuk dan semangat Al-Quran tentang dimensi spiritualitas disamping
juga, mengingat sufisme tidak muncul begitu saja dalam khazanah peradaban Islam
maka perlu dikaji ulang dari aspek historis sosiologis secara menyeluruh, agar
dapat diperoleh pemahaman yang tepat dan benar.
3.
Pada seluruh umat Islam semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi
khazanah keilmuan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad
Jaiz, Hartono, Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan, Solo WIP, 2006
Anwar,
Rosihon, Dr., 2006, Ilmu Tasawuf, Bandung. Pustak Setia
http//www.perkembangan tarekat qodiriyah di
indonesi.com

0 komentar:
Posting Komentar